Hikmah di Sebalik Kerinduan: Mengapa Jiwa Tidak Ingin Kembali ke Tempat Lama


Hikmah di Sebalik Kerinduan: Perspektif Tasawuf Moden Berdasarkan Futuhat al-Makkiyah

Pengenalan: Paradoks Kerinduan Spiritual

Fenomena kerinduan merupakan salah satu pengalaman universal manusia, namun dari perspektif spiritual ia sering memunculkan paradoks: hati terasa rindu kepada tempat, keadaan, atau kenangan lama, tetapi pada masa yang sama tidak ada keinginan untuk benar-benar kembali ke sana. Fenomena ini dapat difahami melalui kacamata tasawuf moden dan pandangan Ibn Arabi dalam Futuhat al-Makkiyah, di mana kerinduan bukan sekadar perasaan nostalgia, tetapi merupakan indikator perjalanan jiwa menuju kesempurnaan spiritual.

Sebagaimana firman Allah SWT:

> “Dan Allah mengekalkan bagi hamba-hamba-Nya apa yang mereka kerindui di dunia ini, tetapi apa yang ada di sisi-Nya lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 216)



Kerinduan yang tidak disertai niat untuk kembali merupakan tanda bahawa jiwa telah menimba pengajaran dari pengalaman lampau dan sedang bersiap untuk fasa yang lebih tinggi dalam perjalanan spiritualnya. Fenomena ini bukanlah kegagalan atau kontradiksi, tetapi manifestasi kematangan spiritual.


---

Hakikat Kerinduan Menurut Ibn Arabi

Dalam Futuhat al-Makkiyah, Ibn Arabi menekankan bahawa kerinduan (hanîn atau syauq) adalah nyalaan api cinta dalam hati yang timbul kerana terpisah dari Yang Dicintai. Kerinduan berfungsi sebagai “kompas spiritual” yang menunjukkan arah kepada Rumah yang sebenar, yakni Allah SWT, bukan sekadar bentuk fizikal duniawi.

Kerinduan mempunyai dua dimensi utama:

1. Kerinduan Zahir: Rindu terhadap bentuk-bentuk fizikal, kenangan, atau pengalaman duniawi.


2. Kerinduan Batin: Rindu kepada hakikat di balik bentuk-bentuk itu; rindu kepada Allah, cahaya makrifat, atau keadaan batin yang damai.



Ibn Arabi memperincikan lapan jenis kerinduan spiritual yang mencerminkan tahap-tahap kesedaran jiwa:

1. Hanîn ilal-Asl (Kerinduan kepada Asal Usul): Rindu kepada keadaan jiwa sebelum dilahirkan ke dunia.


2. Hanîn ilallah (Kerinduan kepada Tuhan): Rindu yang paling hakiki kepada Sumber segala sesuatu.


3. Hanîn ilan-Nur (Kerinduan kepada Cahaya): Rindu kepada cahaya makrifat dan spiritual.


4. Hanîn ilas-Sakinah (Kerinduan kepada Ketenangan): Rindu kepada ketenangan hati yang sejati.


5. Hanîn ilal-Haqq (Kerinduan kepada Kebenaran): Rindu untuk menyaksikan dan mengalami kebenaran.


6. Hanîn ilal-Wahdah (Kerinduan kepada Keesaan): Rindu untuk mengalami kesatuan dengan Yang Maha Esa.


7. Hanîn ilal-Baqa (Kerinduan kepada Keabadian): Rindu kepada kehidupan yang abadi.


8. Hanîn ilal-Mahabbah (Kerinduan kepada Cinta): Rindu untuk mencintai dan dicintai secara hakiki.



Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

> “Barang siapa yang mencintai sesuatu karena Allah, maka Allah akan memperlihatkan kepadanya keindahan cinta itu dalam hatinya.” (HR. Muslim)




---

Hikmah Kerinduan Tanpa Keinginan Kembali

Fenomena kerinduan yang tidak disertai keinginan kembali mempunyai beberapa hikmah penting:

1. Tanda Jiwa Mengambil Intipati Spiritual
Jiwa yang telah memperoleh hakikat dari suatu pengalaman tidak lagi memerlukan bentuk lahiriahnya. Ibn Arabi menegaskan, “Seperti seseorang yang telah mengambil madu dari sarang, tidak perlu lagi memegang sarangnya.”


2. Petanda Peralihan Maqam Spiritual
Setiap maqam spiritual mempunyai rasa tertentu. Apabila jiwa naik ke maqam lebih tinggi, ia tidak lagi merasakan kenikmatan pada maqam lama.


3. Isyarat Penyempurnaan Fasa Hidup
Setiap fasa mempunyai misi spiritualnya. Apabila misi selesai, jiwa secara semula jadi bergerak ke fasa seterusnya.


4. Tanda Kematangan Spiritual
Ibn Arabi memetik analogi kanak-kanak dan mainannya: “Kanak-kanak ingin kembali kepada mainan lamanya. Orang dewasa spiritual memahami bahawa mainan itu hanyalah alat pembelajaran, bukan tujuan.”



Ayat al-Quran turut menegaskan hakikat perjalanan jiwa:

> “Setiap jiwa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sahaja diberikan ganjaran sepenuhnya.” (Ali Imran: 185)




---

Proses Transformasi Kerinduan

Ibn Arabi menjelaskan bahawa kerinduan bukan sekadar perasaan pasif, tetapi sebuah proses transformasi:

1. Kerinduan Zahir: Merindui bentuk-bentuk duniawi.


2. Penyadaran: Menyadari bahawa yang dirindui bukan bentuknya, tetapi makna di baliknya.


3. Transformasi: Kerinduan berubah menjadi rindu kepada hakikat dan cahaya spiritual.


4. Penyatuan: Menyadari bahawa yang dirindui adalah Sumber segala makna.



Dalam hadis sahih, Nabi Muhammad SAW bersabda:

> “Hati-hati yang jauh dari Allah akan selalu merasa kosong, dan hanya Allah yang dapat mengisinya.” (HR. Tirmidzi)




---

Tanda-Tanda Kerinduan yang Menyehatkan

Kerinduan yang sihat menandakan jiwa dalam kondisi seimbang:

1. Membawa Kedamaian: Kerinduan menenangkan, bukan menggundahkan.


2. Mendorong ke Hadapan: Memberi motivasi untuk maju, bukan mundur.


3. Membuka Hati: Membuka pintu untuk menerima hikmah Ilahi.


4. Membersihkan Jiwa: Menyucikan hati dari keterikatan duniawi.



Sebaliknya, kerinduan yang tidak sihat membawa kerugian spiritual:

1. Membelenggu: Terikat dengan masa lalu.


2. Melalaikan: Mengabaikan tanggungjawab kini.


3. Menipu: Tertipu nostalgia tanpa mengambil pelajaran.


4. Melemahkan: Mengurangi semangat hidup dan pencarian spiritual.




---

Peranan Kenangan dalam Transformasi Kerinduan

Kenangan lama bukan sekadar objek nostalgia, tetapi bahan pembelajaran spiritual:

1. Sebagai Cermin: Menunjukkan keadaan jiwa kita saat itu.


2. Sebagai Guru: Mengajarkan pelajaran hidup.


3. Sebagai Bahan Bakar: Memberikan motivasi untuk berkembang.


4. Sebagai Peta: Menunjukkan jalan yang telah dilalui dan arah perjalanan spiritual selanjutnya.



Ibn Arabi menegaskan:

> “Kenangan adalah bekas yang pernah diisi air. Airnya mungkin sudah habis, tetapi bekasnya masih berbau wangi. Jangan terpaku pada bekas, carilah Sumber airnya.”




---

Langkah-Langkah Mengelola Kerinduan

1. Mengakui Kerinduan: Sadari perasaan itu dengan jujur.


2. Menyelami Makna: Telusuri makna di balik kerinduan.


3. Mentransformasi: Ubah kerinduan duniawi menjadi kerinduan spiritual.


4. Mengarahkan: Arahkan kerinduan kepada Allah SWT.


5. Mewujudkan: Hidupkan pengalaman spiritual dalam keseharian.




---

Kisah-Kisah Kerinduan dalam Futuhat

Beberapa kisah Ibn Arabi menunjukkan transformasi kerinduan:

Seorang Pencari: Rindu kampung halamannya, namun yang dirindui adalah “rasa” pengalaman, bukan tempat itu sendiri.

Seorang Sufi: Rindu gurunya yang telah wafat, menyadari bahwa yang dirindui adalah cahaya spiritual gurunya.

Seorang Muhibbin: Rindu masjid lama, menyadari bahwa yang dirindui adalah kondisi hati saat berada di sana.



---

Hubungan Kerinduan dengan Konsep Tasawuf Lain

Kerinduan terkait dengan beberapa konsep penting dalam tasawuf:

1. Cinta (Mahabbah): “Kerinduan adalah anak panah cinta.”


2. Kezuhudan (Zuhud): Kerinduan yang benar membawa kepada pemisahan dari dunia.


3. Makrifat (Ma‘rifah): Membuka pintu pengenalan hakiki.


4. Keredhaan (Ridha): Kerinduan matang membawa jiwa kepada keredhaan Ilahi.



Rasulullah SAW bersabda:

> “Barang siapa yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi, niscaya hatinya akan tenang dan damai.” (HR. Ahmad)




---

Aplikasi dalam Kehidupan Seharian

1. Mengenali Jenis Kerinduan: Tentukan apakah yang dirindui bersifat duniawi atau spiritual.


2. Mentransformasi Kerinduan: Ubah kerinduan duniawi menjadi dorongan spiritual.


3. Mencari Sumber: Temukan Sumber sejati dari semua yang dirindui.


4. Berkreativitas: Ciptakan pengalaman baru yang memperkaya spiritual.


5. Bersyukur: Anggap kenangan indah sebagai hadiah dari Allah SWT.




---

Kesimpulan: Kerinduan sebagai Jalan Pulang

Kerinduan yang tidak disertai keinginan kembali menandakan bahwa jiwa sedang berada di jalan pulang kepada Hakikat. Ia menjadi kompas menuju Rumah yang sejati, bukan sekadar rumah-rumah sementara duniawi.

Ibn Arabi menekankan:

> “Jangan bersedih karena tidak ingin kembali ke tempat lama. Bergembiralah, kerana itu tanda bahwa engkau sedang dalam perjalanan kepada-Ku.”



Sebagaimana firman Allah SWT:

> “Dan sesungguhnya hamba-hamba-Ku yang bertakwa akan mewarisi tanah surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Qasas: 54)



Kerinduan sejati bukanlah terhadap bentuk atau kenangan lama, tetapi kepada Sumber segala bentuk dan pengalaman. Ia adalah panggilan jiwa untuk pulang kepada Allah, Pembuat segala pengalaman, Cahaya Hakiki, dan Cinta Abadi.


---


Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

Hari ke 2 — Ego Yang Tersembunyi

Sakit Itu Panggilan Cinta: Rahsia di Sebalik Derita

DAY 1 — Mengaku Kelemahan Diri