BELAJAR DARI ANAK KECIL (PART 2)
- Dapatkan pautan
- X
- E-mel
- Apl Lain
BELAJAR DARI ANAK KECIL: KADANG KEBAIKAN ITU TERASA PAHIT
Analisis Futuhat Makkiyah dalam Kerangka Tasawuf Moden
PENDAHULUAN
Dalam disiplin tasawuf klasik, khususnya melalui karya agung al-Futuhat al-Makkiyyah, Ibn ‘Arabi sering mengingatkan bahawa perjalanan seorang hamba kepada Allah tidak terpisah daripada tajalli — pendedahan Ilahi melalui peristiwa dan ujian. Tasawuf moden cuba menerjemahkan konsep ini ke dalam bahasa psikospiritual: bagaimana emosi, trauma dan kesakitan batin menjadi pintu futuhat bagi mengenal hakikat diri dan Tuhan.
Analogi anak kecil yang dipaksa menelan ubat pahit membuka perspektif bahawa keterbatasan akal membuat manusia mudah salah tafsir hikmah Ilahi.
Surah Al-Baqarah 2:216 — “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”Ayat ini berfungsi sebagai landasan epistemologi: manusia melihat 'kulit' peristiwa, Allah mengetahui 'hakikat' di baliknya.
BAGIAN 1: ANAK KECIL SEBAGAI ANALOGI KEROHANIAN
Seorang anak kecil yang menangis ketika dipaksa menelan ubat pahit memperlihatkan dua sifat utama:
- Keterbatasan pemahaman
- Ketergantungan total kepada penjaganya
Manusia dalam hubungannya dengan Allah berada dalam keadaan yang sama — malah lebih lemah. Oleh itu:
Surah An-Nahl 16:53 — “Dan apa jua nikmat yang ada pada kamu adalah daripada Allah.”“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Dan pada setiap kebaikan itu ada manfaat.”
Kekuatan yang dimaksud bukan sekadar fizikal tetapi keteguhan jiwa ketika menerima takdir pahit.
BAGIAN 2: FUTUHAT MAKKIYAH — HIKMAH DI BALIK KEPEDIHAN
Dalam Futuhat Makkiyah, Ibn ‘Arabi menerangkan bahawa setiap ujian adalah futuh — pembukaan untuk melihat hakikat diri. Allah menyampaikan ilmuNya melalui dua jalan:
- Jalan kelembutan (lutf) — nikmat, rezeki, kemudahan.
- Jalan keperitan (qahr) — ujian, musibah, kesempitan.
Bagi Ibn ‘Arabi, jalan keperitan sering lebih cepat membuka pintu makrifat kerana ia meruntuhkan ego dan membuka ruang ketundukan yang lebih jujur.
Surah Al-Ankabut 29:69 — “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh pada jalan Kami, pasti Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”Kesungguhan di sini bukan hanya amalan ritual, tetapi juga kesanggupan menanggung ujian dengan sabar dan redha.
BAGIAN 3: TASAWUF MODEN & PSIKOSPIRITUAL UJIAN
Dalam psikologi moden, pengalaman pahit sering dianggap sebagai gangguan; tetapi dalam psikospiritual Islam pengalaman itu merupakan data rohani — bahasa Tuhan yang perlu dibaca.
1. Ujian sebagai Cermin Diri
Setiap rasa sakit memaparkan luka tertentu:
- Marah menunjukkan luka egotisme.
- Takut menunjukkan keterikatan pada dunia.
- Kecewa menunjukkan ketidakfahaman terhadap takdir.
2. Ujian sebagai Pembaikan Struktur Roh
Ibn ‘Arabi menegaskan bahawa ujian memperhalus struktur roh: roh yang ditempa menjadi lebih peka dan matang.
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya, Allah akan menimpakan kepadanya musibah.”
Bukan hukuman, tetapi proses pemilihan dan pembinaan.
BAGIAN 4: DIMENSI MAKNA DI BALIK PERISTIWA PAHIT
-
Kehilangan sebagai Penyelamat
Nilai sesuatu sering hanya terbuka selepas kehilangan — kadangkala Allah melindungi kita dari apa yang kita dambakan kerana ia akan merosakkan.
-
Kegagalan sebagai Ruang Kreativiti
Kegagalan membuka alternatif rezeki yang tidak terjangka — ubatnya pahit, namun penyakit sembuh.
-
Kesakitan sebagai Penghapus Dosa
Hadis 3 (HR. Bukhari & Muslim) “Tidaklah seorang mukmin ditimpa keletihan, sakit, kesedihan, atau keresahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosanya.” Dalam perspektif tasawuf, ini adalah alkimia ruh: kesakitan membakar sisa-sisa kotoran jiwa.
BAGIAN 5: MEMATURKAN JIWA — DARI ANAK KECIL MENJADI HAMBA DEWASA
Seperti anak kecil yang dewasa mengerti maksud ibunya, manusia kelak di akhirat akan melihat peta hikmah Ilahi: apa yang dahulu terasa pahit rupanya hadiah yang menyelamatkan.
“Ya Allah, rupanya semua yang Engkau beri itu untuk menyelamatkanku. Terima kasih untuk ubat yang pahit dahulu.”
BAGIAN 6: LANGKAH PRAKTIK TASAWUF MODEN
- Latihan Redha — redha bukan pasrah lemah, tetapi penerimaan berilmu bahawa Allah tahu lebih baik.
- Latihan Syukur dalam Musibah — cabaran neuroplastik: mengubah reframing dalam menerima ujian.
- Latihan Tafakkur Harian — tanya: “Apa yang Allah sedang ajar melalui peristiwa ini?”
- Latihan Tawakkal Aktif — bergerak sambil bersandar: usaha + pergantungan kepada Ilahi.
KESIMPULAN
Analogi anak kecil yang menelan ubat pahit membuka hakikat: kebaikan tidak selalu berbentuk manis. Kadangkala kepahitan itulah yang menyembuhkan dan menyucikan.
Melalui lensa Futuhat Makkiyah, ujian merupakan bahasa Ilahi — tajalli yang menyingkap hakikat kepada hamba yang bersungguh. Kesimpulannya ringkas:
- Allah tidak pernah zalim.
- Ujian tanda perhatian, bukan kebencian.
- Kesakitan adalah proses penyucian.
Akhirnya, manusia matang secara kerohanian bukan lagi seperti anak kecil yang meronta, tetapi seorang hamba yang berkata:
“Ya Allah, walau pahit, aku yakin di dalamnya ada kebaikan yang Engkau sembunyikan.”
- Dapatkan pautan
- X
- E-mel
- Apl Lain
Ulasan
Catat Ulasan