Hikmah di Sebalik Kerinduan: Mengapa Jiwa Tidak Ingin Kembali ke Tempat Lama

Hikmah di Sebalik Kerinduan: Perspektif Tasawuf Moden Berdasarkan Futuhat al-Makkiyah Pengenalan: Paradoks Kerinduan Spiritual Fenomena kerinduan merupakan salah satu pengalaman universal manusia, namun dari perspektif spiritual ia sering memunculkan paradoks: hati terasa rindu kepada tempat, keadaan, atau kenangan lama, tetapi pada masa yang sama tidak ada keinginan untuk benar-benar kembali ke sana. Fenomena ini dapat difahami melalui kacamata tasawuf moden dan pandangan Ibn Arabi dalam Futuhat al-Makkiyah, di mana kerinduan bukan sekadar perasaan nostalgia, tetapi merupakan indikator perjalanan jiwa menuju kesempurnaan spiritual. Sebagaimana firman Allah SWT: > “Dan Allah mengekalkan bagi hamba-hamba-Nya apa yang mereka kerindui di dunia ini, tetapi apa yang ada di sisi-Nya lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 216) Kerinduan yang tidak disertai niat untuk kembali merupakan tanda bahawa jiwa telah menimba pengajaran dari pengalaman lampau dan sedang bersiap unt...

Berjalan Melintasi Sungai – Iman yang Menggerakkan Gunung

BERJALAN MELINTASI SUNGAI – IMAN YANG MENGGERAKKAN GUNUNG

GAYA FUTŪḤĀT MAKKIYYAH TASAUF MODEN

Pembuka: Ketulusan yang Menundukkan Air

Dalam kitab al-īmān, air tunduk pada iman yang tulus. Kisah seorang murid yang berjalan di atas air dengan membaca Bismillāh, sementara gurunya tidak mampu, membuktikan ṣidq al-īmān lebih berkuasa daripada ilmu semata.

Kisah Murid dan Guru

Seorang murid selalu terlambat ke majlis ilmu kerana harus menyeberangi sungai. Suatu hari, gurunya berceramah tentang keutamaan Bismillāh:

"Barangsiapa membaca Bismillāh dengan yakin, dia mampu berjalan di atas air."

Keesokan harinya, ketika perahu sewaan tidak ada, murid itu membaca Bismillāh dan berjalan di atas air. Takjub dengan kejadian ini, dia mengundang gurunya ke rumah. Saat sampai di sungai, murid itu meminta gurunya berjalan di atas air. Sang guru menjawab: "Aku tidak memiliki keimanan pada Bismillāh seperti yang kau miliki."

Tafsir Sufi: Ilmu tanpa Iman bagai Pohon tanpa Buah

Al-Ghazali dalam Iḥyā' menulis: "Ilmu adalah syarat, iman adalah ruh. Ilmu tanpa iman bagai jasad tanpa nyawa."

Firman Allah:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu." (QS. Al-Ḥujurāt: 15)

Hadis:

"Iman itu adalah pengakuan dengan lisan, keyakinan dalam hati, dan pengamalan dengan anggota badan." (HR. Muslim)

Kisah Moden: Bisnes yang Berkah dengan Bismillāh

Seorang usahawan selalu membaca Bismillāh sebelum setiap urusan bisnes. Meski pesaingnya lebih berpengalaman, bisnesnya berkembang pesat. Suatu hari dia berkongsi rahsia: "Kunci kejayaan saya adalah Bismillāh. Setiap keputusan dimulai dengan nama Allah."

Hikmah: Integrasi Ilmu dan Iman

Firman Allah:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa darjat." (QS. Al-Mujādilah: 11)

Bismillāh menyatukan ilmu dunia dan akhirat, akal dan hati.

Penutup: Dari Teori Menuju Praktik

Hadis:

"Barangsiapa mengamalkan ilmu yang dia ketahui, Allah akan mewariskan ilmu yang belum dia ketahui." (HR. Abu Nu'aim)

Bismillāh adalah jembatan antara mengetahui dan mengamalkan, antara teori dan praktik.

Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

Hari ke 2 — Ego Yang Tersembunyi

Sakit Itu Panggilan Cinta: Rahsia di Sebalik Derita

DAY 1 — Mengaku Kelemahan Diri