Hikmah di Sebalik Kerinduan: Mengapa Jiwa Tidak Ingin Kembali ke Tempat Lama

Hikmah di Sebalik Kerinduan: Perspektif Tasawuf Moden Berdasarkan Futuhat al-Makkiyah Pengenalan: Paradoks Kerinduan Spiritual Fenomena kerinduan merupakan salah satu pengalaman universal manusia, namun dari perspektif spiritual ia sering memunculkan paradoks: hati terasa rindu kepada tempat, keadaan, atau kenangan lama, tetapi pada masa yang sama tidak ada keinginan untuk benar-benar kembali ke sana. Fenomena ini dapat difahami melalui kacamata tasawuf moden dan pandangan Ibn Arabi dalam Futuhat al-Makkiyah, di mana kerinduan bukan sekadar perasaan nostalgia, tetapi merupakan indikator perjalanan jiwa menuju kesempurnaan spiritual. Sebagaimana firman Allah SWT: > “Dan Allah mengekalkan bagi hamba-hamba-Nya apa yang mereka kerindui di dunia ini, tetapi apa yang ada di sisi-Nya lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 216) Kerinduan yang tidak disertai niat untuk kembali merupakan tanda bahawa jiwa telah menimba pengajaran dari pengalaman lampau dan sedang bersiap unt...

TAK MEMBACANYA BERERTI MENCURI

TAK MEMBACANYA BERERTI MENCURI

Gaya Futūḥāt Makkiyyah dan Perspektif Ahlul Bait

Dalam tradisi Ahlul Bait, tidak membaca Bismillah dianggap "mencuri" ayat paling agung dari Al-Quran. Imam Ja'far ash-Shadiq dengan tegas menyatakan hal ini.

Rasulullah SAW bersabda:

"Bismillah adalah bagian dari Surah Al-Fatihah" (Hadis Riwayat Al-Hakim)

Allah berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung" (Surah Al-Hijr ayat 87)

Imam Muhammad al-Baqir berkata:

"Mereka telah mencuri ayat yang paling mulia dari Kitab Allah"

Kisah Muawiyah: Pengajaran Praktis

Kisah Muawiyah yang ditegur sahabat karena tidak membaca Bismillah dalam solat menjadi pengajaran penting. Awalnya dia mengabaikan, setelah ditegur barulah istiqamah membacanya.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa tidak membaca Bismillah dalam solat, maka solatnya kurang" (Hadis Riwayat Abu Daud)

Allah berfirman:

"Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka, mereka membacanya dengan sebenar-benarnya bacaan, mereka itulah yang beriman kepadanya" (Surah Al-Baqarah ayat 121)

Dimensi Spiritual Bismillah

Dalam Futuhat Makkiyyah, Bismillah dipahami sebagai “roh” bagi setiap amalan. Tanpanya, amalan bagai jasad tanpa nyawa. Imam Ghazali dalam Ihya' menyebut Bismillah sebagai "niat dalam bentuk lafaz".

Imam Ali berkata:

"Ucapan Bismillah artinya memberi tanda tubuh saya dengan menggunakan besi panas"

Kisah Guru Tasawuf Moden

Seorang guru tasawuf moden mengajar murid-muridnya untuk memulakan setiap aktiviti dengan Bismillah. Hasilnya, kerja-kerja mereka sentiasa diberkati dan berjalan lancar.

Firman Allah:

"Maka apabila kamu membaca Al-Quran, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk" (Surah An-Nahl ayat 98)

Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa membaca Bismillah ketika memulai pekerjaan, Allah akan menyempurnakan pekerjaannya" (Hadis Riwayat Al-Baihaqi)

Cahaya Spiritual Setiap Huruf Bismillah

  • Ba': memancarkan cahaya biru langit
  • Sin: memancarkan cahaya putih
  • Mim: memancarkan cahaya hijau

Kombinasi cahaya ini membentuk perlindungan spiritual bagi pembacanya, menjadikan Bismillah sebagai penjaga dan penguat setiap amalan.

Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

Hari ke 2 — Ego Yang Tersembunyi

Sakit Itu Panggilan Cinta: Rahsia di Sebalik Derita

DAY 1 — Mengaku Kelemahan Diri